Tampilkan postingan dengan label Materi FLP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi FLP. Tampilkan semua postingan

SURAT KEPUTUSAN FLP SK 2011-2013


SURAT KEPUTUSAN
PENGURUS FORUM LINGKAR PENA
WILAYAH PROVINSI SUMATERA SELATAN

NOMOR:…………………

TENTANG

PEMBERHENTIAN PENGURUS FORUM LINGKAR PENA
KOTA LUBUKLINGGAU  DAN KABUPATEN MUSI RAWAS PERIODE 2010-2011,
DAN PENGANGKATAN PENGURUS FORUM LINGKAR PENA
KOTA LUBUKLINGGAU DAN KABUPATEN MUSI RAWAS PERIODE 2011-2013.



Menimbang          : 1.    bahwa hak setiap warga Negara untuk berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan, sebagaimana diatur dalam  pasal 28 UUD 1945,

   2.   bahwa untuk tertibnya pelaksanaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan tulisan dan tertulis, maka perlu dibuat suatu surat keputusan pemberhentian dan pengangkatan pengurus Forum Lingkar Pena Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas, sehingga kegiatan organisasi dapat berjalan dan dipertanggungjawabkan  sesuai dengan ketentuan.


Memperhatikan   : 1.    Pasal 14 Anggaran Dasar  Forum Lingkar Pena.
2.      Pasal 21 Anggaran Rumah Tangga Forum Lingkar Penan.
3.      Ketetapan hasil Musyawarah Cabang Forum Lingkar Pena Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas ke III, yang disampaikan pimpinan Sidang Musyawarah Cabang Forum Lingkar Pena Kota Lubuklinggau, Nomor:07/MUSCAB/4/2011, tanggal 28 April 2011.


MEMUTUSKAN


Menetapkan         : 1.    Memberhentikan dengan hormat pengurus Forum Lingkar Pena Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas masa bakti 2010-2011.
        2.      Mengangkat pengurus  Forum Lingkar Pena Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas masa bakti 2011-2013, sesuai dengan lampiran surat keputusan ini.
          3.      Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila ada kekeliruan dalam surat puputusan ini dikemudian hari, akan dilakukan perbaikan seperlunya.



Ditetapkan di: Palembang
Pada Tanggal:




K E T U A                                                                   S E K R E T A R I S




ACEP KUSMANA                                                  DEDE UTAMI


 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 
Lampiran Surat Keputusan       
ForumLingkar Pena Wilayah Provinsi Sumatera Selatan
Nomor: ............
Tentang: Sunanan dan Nama-Nama  Pengurus Forum Lingkar  Pena Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas Periode 2011-2013.
===============================================================

Susunan Pengurus Forum Lingkar Pena
Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas
Periode 2011-2013

Pembina                           : Solihin, SH

Dewan Penasehat         : 1.    Benny Arnas, S.P
                                               2.   Desy Arisandi, S.Pd
                                               3.   Evvy Andayani, m.fis
                                               4.   Rusmana Dewi, M.Pd

Ketua                                 : Elida Nurhabibah
Wakil Ketua                    : Ahmad Zulbani
Sekretaris                        : Eti Dwi Diar Murni
Wakil Sekretaris           : Muhammad Ikbal
Bendahara                       : Iis Apri Yulianti
Wakil Bendahara          : Wiki Apriyanti

1.   Devisi Humas                                                      
      Koordinator           : Muhammad Husein                            
      Anggota                    : Epandi

2.   Devisi Pengkaderan
      Koordinator           : Yulius Geargoe
      Anggota                    : Freddy Ferdinant S

3.   Devisi Publikasi                                      
      Koordinator           : Berry Budiman                                
      Anggota                   : Nur Handayani

5.   Divisi Kekaryaan dan Arsip
      Koordinator           : Deka Oktarina
      Anggota                    : Indra

6.   Devisi Bisnis
      Koordinator           : Muhammad Rudi
      Anggota                    : Nanda Septriandra

7.   Devisi Freelance (ANGK. I FLP LLG)
      Koordinator          : Maulana, S.Pd
        Anggota                   : 1.   Mulyadi
  2.   Supriyadi, S.Pd
  3.   Nyimas Jamila Angraini, S.Pd
  4.   Dheo Rimbano, S.E
  5.   Suantak, SPd
  6.   Mayang Sari, SPd
  7.   Yeni Apriyani, S.Pd
  8.   Rahayu Juana, SPd
  9.   Eni Yuniarsih, SPd
  10. Pustarina Juwita, SPd
  11. Vivi Kusminarti, SPd
  12. Eka Asmaini, SPd
  13. Yenni Elvita, S.Pd




K E T U A                                                                   S E K R E T A R I S




ACEP KUSMANA                                               DEDE UTAMI

Mari! Mencoba Membuat Sebuah Formula dalam Menulis

Saya tahu, jika ada seorang penulis, yang sudah berpengalaman, membaca ini, kemungkinan tidak akan menyetujui cara seperti saya. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula, jika ada yang setuju, atau paling tidak "tidak menyalahkan" :-)

Dalam menulis dituntut kreatifitas, sehingga bisa saja teknik-teknik dengan membuat formula, rumus, atau metode dianggap justru menghambat munculnya kepribadian sejati dari seorang penulis.  Yah, saya sepakat jika menulis harus kreatif, saya hanya mencoba berpedoman dengan logika (saya) saja, bukankah setiap hal yang baik selalu punya aturan yang melingkarinya?

Mari! ciptakan aturan anda sendiri. Ibaratnya, dalam hidup ini kita punya prinsip yang kita pegang teguh. Dan dunia kepenulisan adalah kehidupan yang akan, sedang, atau telah kita pilih. So, mari... menulislah dengan aturan yang Anda ciptakan sendiri atau mengambil aturan dari penulis lain pun sah saja selama aturan itu membuat anda menjadi lebih baik dalam menulis.

Tapi jangan terlalu nyeleneh ketika menciptakan jiwa kepenulisan anda ya, nanti malah mendobrak tata bahasa yang berlaku (EyD), hehe...



Materi ini saya sampaikan ketika memberikan pelatihan kepada FLP Muda.
2 + 2 = Cerita, Menyampaikan cerita + Rajin Berlatih Menulis, dan Membaca

 
A.  Cerita
Jelas sekali, bahwa ketika kita ingin mengarang, kita membutuhkan cerita. Cerita adalah komponen utama dari karangan narasi sugestif (cerpen), karena tanpa cerita tentunya kita tidak akan menulis apapun.
Bagaimana membangun sebuah cerita?
Hal utama yang harus anda lakukan saat membangun sebuah cerita adalah menemukan benang merah cerita, Misal:
  1. Ayat-Ayat Cinta: menceritakan seorang mahasiswa Indonesia di Al-Azhar. Taat beragama, berbakat akademik. Terjebak dalam kisah cinta segitiga, dan akhirnya memutuskan untuk berpoligami. Secara keseluruhan diceritakan secara Islami. 
  2. Laskar Pelangi: cerita anak dusun dengan segala polemik pendidikannya yang serba memprihatinkan. Namun, semangat belajarnya tinggi. 
  3. Laskar Pelangi, versi Ibu Muslimah: adalah seorang guru wanita yang di pangil ”Ibu Mus” oleh murid-muridnya, memiliki dedikasi tinggi untuk mengajar di sekolah miskin padahal ia punya kemampuan untuk mengajar di sekolah yang lebih baik. 
  4. Laskar Pelangi, versi Lintang: Lintang adalah siswa sekolah dasar di Muhammadiyah Gantong. Ia adalah anak pelaut miskin yang tinggal jauh 40 km dari gantong. Setiap hari ia menggunakan sepeda ontel menuju sekolahnya, melewati hutan, lereng, perbukitan, dan sebuah sungai yang banyak buayanya. 
  5. Ada Apa Dengan Cinta? versi Rangga: Rangga, siswa yang dikenal cuek namun punya minat yang besar terhadap sastra mengenal Cinta (siswi di sekolahnya) melalui lomba puisi tahunan. Cinta mendekatinya untuk mewawancarainya sebagai pemenang lomba puisi, tetapi Rangga skeptis, dengan menganggapnya tidak berkepribadian, sama seperti wanita remaja gaul lainnya. Sampai ketika ia menemukan sisi menarik dari Cinta. Sisi lembutnya, yang membuat Rangga terpesona. Namun, ketika mereka dekat, tanpa sebab cinta memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi. 
  6. Kali ini, apakah anda bisa membuatnya dalam versi Cinta? tentu saja Anda bisa.
       Baiklah, sekarang Kita yang menentukan cerita kita sendiri. Kita boleh saja terinspirasi dari film, musik, atau cerpen yang ada seperti yang saya lakukan di atas. Tetapi ingatlah untuk tidak menjiplak, ya! Dalam kepenulisan ada pula indikasi yang meletakkan sebuah karya sebagai hasil jiplakan berdasarkan kriteria tertentu. Usahakan bahwa kita hanya terkesan kepada karya tersebut, lalu mencoba membuat karya yang sama bagusnya bukan sama persisnya hehe.... Kita juga bisa mengambil ide dari diri kita sendiri, karena pengalaman kita sehari-hari adalah gudang ide itu sendiri, hanya jika kita mau membukanya.

B.    Menyampaikan Cerita
Setelah kita memiliki sebuah batang cerita yang sudah tertuang dalam alur cerita, atau hanya tergambar di imajinasi kita, tugas selanjutnya adalah memulai untuk menceritakannya. Ada dua hal yang harus diperhatikan ketika kita menceritakan sebuah batang cerita: perangkaian bahasa yang baik serta efektif dan EyD.
Merangkai bahasa dan penggunaan EyD bisa diterapkan dalam satu kesempatan pengkaryaan.

Contoh 1 :
- Menceritakan seseorang wanita. Sahrini (bukan Syahrini lho!). Aneh. kulit kuning kentang muda. mata cokelat-ungu. pendiam. acuh dan cuek.

Dia adalah perempuan paling nyeleneh yang pernah kutemui. Atau tepatnya perempuan misterius. Perempuan berkulit kuning kentang muda, bermata cokelat-ungu. Sunny. Dia selalu memintaku memanggilnya begitu. Teman-teman lain melafal namanya “Sarni”, meski tertulis Sahrini di daftar absen yang diedarkan di ruang tutorial kuliah. Dia selalu bungkam di setiap sesi presentasi, bergumul dengan pikiran dan dunianya sendiri. Acuh pada dosen dan cuek pada sesama teman. Kesukaannya adalah menulis sastra, buku kuliahnya di penuhi oleh puisi dan cerpen daripada materi kuliah. Dia pernah bilang, ”aku masuk ke jurusan teknik ini, semata-mata karena ambisi ayahku yang tak tersampaikan oleh dirinya sendiri sewaktu muda.” sambil berbisik ke telingaku ketika jam kuliah berlangsung.

(Di ambil dan sedikit diubah dari salah satu potongan cerpen yang pernah dimuat di Kompas)

Contoh 2 :
- Tiga remaja disekap dirumahnya sendiri oleh pencuri. Salah satu dari remaja itu yang disekap dikamarnya berhasil melarikan diri dan melapor ke pos satpam terdekat.

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura - tidak terpikirkan lagi, dengan apa yang terjadi dengan dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku – ia segera memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menangkap maling dirumahku. Aku kembali kerumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar 4 menit lamanya saat aku pergi ke pos satpam dan kembali ke rumahku.

Contoh cerpen di atas menurut saya masih kurang baik secara penyampaian dan EyD, saya gubah menjadi seperti ini:

Aku segera lari ke pos satpam yang ada diujung jalan dekat gapura−tidak sempat kupikirkan, apa yang terjadi pada dua sahabatku. Pak Satpam panik mendengar ceritaku, ia memberitahu petugas lainnya untuk segera datang menyergap maling dirumahku.

Aku kembali ke rumah dibonceng petugas dengan motornya. Sekitar empat menit kuhabiskan sejak pergi ke pos satpam hingga kembali ke rumah.

Bisakah Anda menemukan perbedaannya? Ah, tentu saja bisa, hehe...

Contoh 3 :
Tidak tepat
Seluruh rasa antusias itu seakan luruh. Semangatku untuk mendengar cerita Laras, hilang begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, tercabut secara paksa.
Di sebuah kamar kost-an, aku duduk di atas tempat tidur. Tangan kananku memegang sebatang cokelat. Di tangan kiriku, aku memainkan sebuah permainan, di handphone kesayanganku.
“Tari, perasaan dari tadi pagi lo makan cokelat terus. Apa enggak takut gemuk?” tanya Wery, sambil berbaring di tempat tidur yang terletak di samping kanan tempat tidurku.

Efektif
Semua antusiasme itu seakan luruh. Semangatku akan cerita Laras, lenyap begitu saja. Kebahagiaan yang tadi sempat mengisi relung hatiku, terampas secara paksa.
Di sebuah kamar kost, aku rebah di tempat tidur (atau duduk si kursi rotan). Kupegang sebatang coklat di tangan kanan, sementara tangan kiri kupakai untuk mengutak-atik sebuah permainan, di handphone kesayanganku yang baru.
Tari! Perasaan dari tadi pagi lo makan cokelat terus. Apa ’gak takut gemuk?” sergah Wery, sembari menjatuhkan pantatnya di tempat tidur, di samping kananku.

C. Berlatih menulis dan membaca yang menjadi formula "+2" merupakan pokok utama dari formula "2" sebelumnya, bahkan saya sangat menyarankan bagi Anda semua untuk lebih memperhatikan poin ini.
      Kesegeraan kita untuk menulis atau mengarang adalah kunci utama keberhasilan seorang penulis. Tanpa latihan, mustahil kita bisa menghasilkan karya yang baik. Percayalah dengan pepatah umum ini ”Practice Makes Perfect”, atau mengutip jargon Nike, ”Just Do It”, sembari gali wawasan anda dengan banyak membaca.

      "Kemampuan Anda dalam menciptakan cerita, merangkai dan menemukan tata bahasa serta tanda baca yang benar adalah kompensasi tak sadar, dari kerajinan anda berlatih menulis dan giat membaca."

Pada akhirnya saya ingin menyampaikan tentang fiksi. Kenapa kita menulis fiksi? sederhana saja, fiksi membuat kita merdeka, kreatif, dan percaya dengan keajaiban. Coba kita renungkan itu. Hm....




Oleh : Berry Budiman, FLP Lubuklinggau

Sekilas tentang Mengarang, Cerpen


Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur.

Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris, sedangkan narasi yang berisi fiksi disebut narasi sugestif. Contoh narasi ekspositoris adalah biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Sedangkan contoh narasi sugestif adalah novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.

Ciri pada umumnya (narasi)
  • Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca
  • Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konfik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mered
  • Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam-macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Cerpen, seperti dijelaskan di atas, adalah salah satu dari narasi sugestif.
Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat. Walaupun dikatakan sebagai fiksi, penulis tetap dituntut untuk menunjukkan kelogisan dari karyanya. Tidak apa-apa kelogisan itu diciptakan dengan subjektif oleh penulis, karena pada dasarnya menciptakan karya fiksi sama dengan menciptakan sebuah dunia ciptaan yang logis.
Narasi memiliki ciri berisi suatu cerita, menekankan susunan kronologis atau dari waktu ke waktu dan memiliki konfiks.


Diberdayakan oleh Blogger.

Quote

“...berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri, itulah sesungguhnya sikap yang realistis.”
Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
Ahmad Fuadi

Pengikut