Jawaban Pinangan di Persimpangan
OLEH ŞAHIFAH SYIRATH
TANGISKU tumpah lagi. Sepi. Nanar menatap langit
kamar yang menjelma bagai ruang kosong. Luas. Dingin. Air mata yang telah
tumpah terus mengaliri pipi. menembus sesakan kapuk. Basahkan bantal bermotif
melati biru di hadapanku. Menyisakan isakan nafas dalam sengalan. Dinding-dinding
bagai bisu. Almari, meja, kursi, pintu, jendela, seakan-akan menaruh musuh lama
bagiku. Mereka tak jadi pelipur lara, hanya diam, dengarkan ratapan lara yang
kulantunkan irama duka.
Aku mendongak. Detakan jam di dinding.
Ya, ia saja, hanya dia yang menaruh isyarat setia. Menjadi musik dari
lantunanku yang terbilang tak merdu. Ternyata, aku bosan sendiri mendengarkan
nyanyianku yang tak ber-not itu. Jiwaku gusar, hatiku bimbang...
Sreeeeet….
kusingkap lelipatan kain yang
butir pengaitnya berderet dekat pada besi singahsananya.
Bulan penuh!
Purnama benar-benar bagai
lukisan indah berbingkai jendela yang sedaritadi lipatan kain itu
menyembunyikannnya. Reremangan bulan bagai diam-diam menghangatkan hati setelah
dingin menelusup seenaknya dengan sangat. Jiwaku menghapus gusar, setitik
memberikan cahaya benderang kerelungnya. Namun, keindahan itu tiada bisa
bicara: menyampaikan jawaban atas kegelisahan yang melanda....
Tatapku makin jauh. Menembus
ruang di mana sang bulan berdiri. Nun ke ranah gelap tak berbintang. Khayalku
menerawang tinggi. Mengambarkan sosok wajah yang bernaung di bait relung hati. Entah,
ada yang melintas di anganku, di mimpiku. Tangisku pecah lagi.
Kuat! Harus kuat!
O, apa yang harus kukatakan
jika pandang kami bertemu kembali. Adakah ia akan menanti jawabanku? Aku tak
seberani biasanya. Aku takut menemuinya. Bulir-bulir bening itu tergenang lagi.
Lagi. Lagi.
♥♥♥
BENANG kusut di dalam otakku merunyam. Riuh
jangkrik makin membuat malam kian memekat. Aku belum mendapatkan kalimat atas
ketidakjelasannya... Aku, masih bimbang, mengelisahkan tuturnya sore tadi.
”Adakah ketulusan itu pada
ucapnya?
Atau, hanya uangkapan jua nan
lalu seiring senja merona?
Ah, setidaknya feelnya itu telah singgah?
Mungkin, ada harapan untuk
memulai berlabuh bersama?
Tingkah itu menghantarkan sebongkah hatikah?
Ya, aku dapat membacanya...”
♥♥♥
KADANG aku ingin bertanya, menyampaikan bisik
hatiku lewat angin malam yang berhembus.
…hatiku sedikit berongga,
mereda seiring larutnya malam. Kuhirup udara bulan dari jendela kamarku yang
telah terbuka. Kutuangkan seluruh isi hatiku di telapak kertas. Maksud
geranganku menerkah engkau:
Desa Kenanga, 21
September 2009
Ba’da kegelisahan karenamu…
Aku hanya mengikuti apa yang
terkisah di kata-kata hati. Kumohon, maafkan aku bila seakan bersikap menghindar.
Tapi untuk saat ini, aku sedang berdiri di persimpangan. Setelah kau habiskan
maksud hatiku di telapak kertas ini, mungkin akan jadi petunjuk arahmu:
kemanakah kuharus melangkah, memilih di antara dua jalan, di persimpangan.
KELUARGAKU bukanlah seperti yang kau lihat dengan
mata telanjang. Tante dan nenekku yang hidup di atas sederhana, atau aku dan
dua saudariku yang rukun dalam satu rumah.
Sungguh, dahulu—bahkan
mendarah daging—ada satu derita yang terus bergelanyut di dalamnya. Entah,
derita itu tak putus pada satu garis keturunan. Ialah derita wanita atas nama
kesetiaan pada pria—suami—yang dicintainya: nenek, tante dan ibuku. Mereka
menikah di usia muda tanpa kedudukan, pendididkan, dan kematangan.
Mereka kalah. Kalah oleh pria.
Pengabdian mereka tak terhingga, namun tersia-sia oleh pria yang tiada menaruh
rasa kasih dan cinta padanya. Mereka memendam semua kepahitan, menyimpan segala
kedukaan. Suami bukanlah sahabat yang dapat dibebani seonggok masalah, atau
sekecil-kecilnya dapat menjelma sebagai teman, tempat berbagi atas segala duka-suka,
bahkan prasoal pisikologis. Perlakuan dan ucap kasar adalah makanan wajib saban
hari. Sampai mereka dihianati, dicurangi. Lalu mereka yang tanpa kududukan dan
pendidikan itu membanting tulang dengan cara menyedihkan—berpeluh nanah dan darah,
bercucuran air mata—demi menghidupi putra-putri sepeningal suaminya.
Hingga,
bagi yang kuat (tante dan nenekku) bertahan, tapi, ibuku lemah. Dia lemah
hingga ajal menjemputnya. Tahukah engkau bisik terakhir yang sempat terkemas
dari bibir pucatkakunya, “Nak, berdirilah
tegar di atas kakimu sendiri sebelum melangkah dalam bahtera hidupmu.” Sampailah
kami tiga saudari, menempati rumah kecil peninggalan beliau ini.
AKU tahu kau menggantung ucapmu. Tapi, nuraniku
berkata, hatiku bergemah: sikap kesungguhanmu itu adalah jawabannya.
Aku
telah sedikit mengenalmu. Kau pria baik. Tahu benar cara bersikap, terutama
pada wanita. Sungguh kau sangat cerdas membaca raut mukaku, kau tahu benar bila
ada satu masalah melandaku. Terkadang tanpa kumulai cerita dukaku, kau telah
tahu cara meredakannya. Buatku tersenyum, memecutku untuk kembali bersemangat
menggapai mimpiku. Cita-citaku.
Ah, kau lebih dari sekedar taman,
tempat berbagi saat duka-suka itu menyerang.
Pun
kau adalah pria yang tekun. Di usia yang tergolong muda—pertengahan kepala
dua—garis mapan itu tak sulit kau dapatkan. Kegigihanmu, cara bertanggung
jawabmu, kebijakan itu, segala prestasi dan kedudukan yang kau sandang. Tentu
akulah wanita yang paling beruntung di dunia. Aku amat yakin atas segala yang
terpancar pada dirimu. Kupikir hidupku akan selalu berlebih bila kau di sisiku,
di sampingku. Kau akan melangkapi segala kurangku. Lalu, adakah alasanku untuk menolak? Kau tahu benar kesediahan yang
menimpaku, penderitaan hidupku. Bisa saja kutinggalkan semuanya—semua
kesengsaraanku—bertarung dalam dunia fana untuk mengenggam pendidikan, meraih
kehormatan, walau tanpa orang tua. Tapi,
bijakkah aku berlari dari semua masalah itu, demi mendirikan istanah emas kita
untuk hidup bahagia bersama?
Aku
tak mau rakus, tenggelam oleh kejayaanmu. Silau oleh kemapananmu. Ya. Tidak.
Aku masih memiliki berisan hati (tante dan nenekku), hanya mereka kerabatku
kini. Merekalah yang selalu mendukung keberhasilanku, meyakinkan aku, bisa
berdiri tegar di atas kakiku sendiri. Bila aku terpuruk merekalah orang pertama
yang kan merasa paling berdosa. Aku tak ingin meyakiti mereka. Benar. Sudah
cukup. Cukuplah mereka menghukum, men-sumpah-serapahi diri atas kelalaian
mereka karena satu dari saudariku itu menikah muda—hidupnya sangat bergantung
pada suaminya. Sungguh pernikahannya itu telah membuatku berkaca bagaimana
hidup berumah tangga. Bukan, saudariku itu tidak salah, ia menikah seperti
layaknya perempuan baik-baik umumnya. Namun, aku tak dapat meraba masa-depan bahteranya.
Memang
pernikahan itu ibarat bahtera yang dilepas di laut luas. Bila telah berlabuh
pastinya badai dan angin topan itu, atau gelombang ganas, akan datang
menghalau-menerjang. Tapi bila kita berlayar dengan persiapan matang: kapal,
besar, kuat, dan kokoh. Tentu bencana yang datang itu pastilah masalah
sederhana, bukan?
Ya, aku tak akan silau, karena dunia tidak
selamanya. Bila kejayaan dan segalanya lenyap, sebagai istri yang baik aku akan
terus bertarung bersamamu menjalani waktu kita. Tapi, berpikirkah engkau bila
kelenyapan itu disertai kepergianmu? Aku yang tanpa pendidikan dan kedudukan,
bagaimana menjalani waktu—menghidupi anak-anak kita, Anak-anakmu. Atau misalnya
suatu hari kau khilaf, karena kau juga manusia kan? Bepikirkah kau tentang
hidupku???
Aku
belum siap. Ya, sesungguhnya aku belum siap menjalani kehidupan baru sebagai
istrimu sekarang. Aku memang menyimpan rasa itu, rasa khusus padamu. Tapi aku
trauma—aku belum siap bila bernasib sama—menjadi pewaris dari derita keturunan
itu!
Aku belum siap, kerena usiaku
yang masih delapan belas, karena wisudaku—pendidikan dan kedudukan itu—terhitung
dua tahun lagi.
Oh,
aku bimbang. Bukan, bukan, sejatinya aku belum pantas berdampingan dengan ketenaranmu,
kecedasanmu, kemapananmu. Takut tak dapat menjadi istri seperti yang kau
harapkan, istri terbaik yang kau idamkan, yang kau dambakan. Sebab pernikahan
bukan lelucon, bukan sandiwara, tapi lalu membilang senja untuk selama-lamanya hingga
berakhir masa.
Biarkan
kuukir diriku, agar orang-orang tak menatap sebelah mata atas persandingan
kita, izinkan waktuku meraih kedudukan dan pendidikan itu?
Biarkan
kesabaran membuahkan: Segala sesuatu
indah pada waktunya!!! (*).
Lubuklinggau, 27 September 2009.
ŞAHIFAH SYIRATH adalah nama pena ELIDA NURHABIBAH. Lahir di Lubuklinggau, 17 Januari 1991. Cerpennya tersebar dibeberapa media dan antologi. Kerap meraih kategori Terbaik dalam bidang seni di berbagai prestasi tingkat kota, provinsi bahkan pernah me-nasional.
Berdomisili di Jl. Kenanga I No. 93 A Kelurahan Pasar Satelit Kecamatan Lubuklinggau Utara II–Sumatera Selatan 31617. E-mailnya elidanurhabibah@ymail.com
Berdomisili di Jl. Kenanga I No. 93 A Kelurahan Pasar Satelit Kecamatan Lubuklinggau Utara II–Sumatera Selatan 31617. E-mailnya elidanurhabibah@ymail.com
18.14
|
Label:
Cerpen
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Quote
“...berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri, itulah sesungguhnya sikap yang realistis.”
― Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
― Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
― Ahmad Fuadi
― Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
― Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
― Ahmad Fuadi

0 komentar:
Posting Komentar