Berhentilah Bertanya Segeralah Menulis!
Siang hari yang
cerah, Kamis 27 Juni 2013 pukul 14.00 sd 15.30 WIB “Linggau Writing Class” pertemuan
ke-2 dilaksanakan. Kelas yang dikhususkan untuk pelatihan menulis ini dilaksanakan
di Perpustakan Kota Lubuklinggau (lantai tiga) yang nyaman dan ekslusif. Dihadiri
oleh banyak kalangan, mulai dari pelajar, umum, dan mahasiswa yang lebih banyak
dari sebelumnya. Dan mereka semua tampak sangat antusias.
Pelatih tetap
pada LCW ini adalah Benny Arnas (sastrawan multitalenta asal Lubuklingggau). Bang
Ben, sapaan akrab kami kepada Benny Arnas menyampaikan bahwa “Membaca dan
menulis itu jangan dianggap sebagai beban namun jadikanlah sebagai kebiasaan
sehari-hari yang sudah mendarah daging, seperti saat makan, minum, atau ke
sekolah. Jangan kita bermalasan-malasan kalau ingin menjadi seorang penulis.
Sering-seringlah membaca buku, apa pun buku itu.” Janganlah membiarkan otak
kita terpedaya pada kemalasan sehingga mmebuatnya tumpul akan imajinasi.
Saat materi berlangsung, terdapat “Kesepakatan” yang dibuat bersama-sama sebagai keluarga di LCW yang disampaikan oleh Bang Ben yaitu:
“(1) Selalu
hadir, (2) Selalu mengerjakan tugas, (3) Sangat sedikit bertanya, (4)
Menyetorkan bahan bacaan per minggu, (5) Menyetorkan tulisan (apapun) per
minggu”.
Nah, kelima
kesepakatan itu dibuat agar peserta yang ikut dalam LCW ini dapat tekun belajar
menuliskan berbagai karya, tidak terjebak pada satu jenis/genre tulisan
tertentu saja. Untuk membuatnya lebih tegas, maka dibuatlah sanksi bagi yang
tidak hadir. Mereka akan dikenakan denda yang besarnya lebih dari iuran LCW per
hari, yaitu Rp5000/pertemuan. LCW, dalam hal ini masih membuka peserta yang
berminat untuk bergabung—terbuka untuk umum. Batas penutupannya sampai
menjelang lebaran. Maka, segeralah turut andil sebagai bagian dari keluarga
LCW!
“Sangat sedikit bertanya”, salah satu peraturan yang dibuat saat itu, maksudnya, kamu bukan berarti tidak boleh banyak bertanya saat kegiatan belajar ini dimulai, namun berupaya untuk mengutamakan kemandirian pemahaman dalam mencerna setiap materi disampaikan.
“Ketika menulis
hindari terlalu sering menghapus (menekan tombol backspace pada keyboard)
ketika jari-jarimu mulai mengetik dan mencoret tulisan, maka kepalamu akan
pusing sendiri karena mendapati lembar kertasmu masih kosong atau tidak
bertambah tulisannya. Jadi, konseplah terlebih dahulu tulisanmu kemudian
diketik rapi, jangan memikirkan kata-kata itu benar atau salah dulu melainkan
teruslah berimajinasi. Bahkan jika perlu, ubahlah jenis warna huruf itu menjadi
warna putih selayaknya warna backround/kertas supaya kalian tidak tahu sehingga
tak sempat menghapus-hapus tulisan itu”, ujar Bang Ben, sambil tersenyum di sela
penyampaian materinya.
Mulai sekarang, besok dan selanjutnya, kita harus memiliki waktu atau jadwal yang tepat untuk membaca buku, bahkan menargetkan, paling tidak, 1 buku bacaan dalam 1 hari. Kemudian setelah itu, buku yang sudah dibaca hendaknya kita membuatkan komentar atas bacaan itu. Selain buku, kamu bisa juga membaca esai, artikel, maupun sastra yang tersebar di media cetak/elektronik. Siasatilah menulis dengan cara merekayasa imajinasi, caranya, giatlah membaca sehinga dapat memperkaya pembendaharaan kata-kata sehingga membuatmu mahir memadupadankan kata-kata yang imajinatif dan melahirkan ide cerita yang cemerlang. Sedangkan orang yang tidak giat membaca, maka ia akan mengulang-ngulang satu titik fokus paragraf lalu berkelanjutan dengan kata atau kalimat yang sama pada paragraf yang lainnya sehingga tidak terjadi pengembangan ide cerita.
Imajinasi tidak
mungkin lahir begitu saja tanpa pengalaman, baik nyata maupun batin. “Ibarat
sebuah senjata api yang telah berisi peluru, tinggal menarik pelatuk saja, ia
akan menyalak.” Oleh karena itu, jadikan pelatuk itu sebagai momen-momen puncak
inspirasi menulis.
Jadi, berhentilah
bertanya dan bergabung dengan kita di LCW... :)
Ditulis oleh:
Riza Meliana Oktaria
10.14
|
Label:
Kegiatan FLP
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Quote
“...berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri, itulah sesungguhnya sikap yang realistis.”
― Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
― Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
― Ahmad Fuadi
― Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
― Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
― Ahmad Fuadi




1 komentar:
http://denynofriansyah.com/wp/
Posting Komentar