Linggau Writing Class Pertemuan Kedua: Disiplin dan Konsistensi Dalam Menulis



Kamis lalu, 27 Juni 2013, bertempat di Perpustakaan Kota Lubuklinggau, Forum Lingkar Pena (FLP) Lubuklinggau kembali melaksanakan pelatihan kepenulisan yang bertajuk “Linggau Writing Class”. Kelas ini dibuka untuk umum dan untuk seterusnya, akan rutin dilaksanakan pada hari Kamis pukul 14.00 WIB. Seminggu sebelumya, kelas ini pun telah sukses menggelar pertemuan perdananya yang masih berlokasi di tempat yang sama, yaitu Perpustakaan Kota Lubuklinggau. Kali kedua kelas ini dilaksanakan, ternyata cukup menyerap antusiasme dan respon yang positif dari peserta. Terbukti, pada pertemuan kali ini, jumlah peserta membeludak menjadi tiga kali lipat dari yang sebelumnya.

            Kelas Menulis adalah program yang diprakarsai oleh FLP Lubuklinggau bekerjasama dengan Perpustakaan Kota dan Benny Institute—sebuah penerbitan yang didirikan oleh Benny Arnas, seorang penulis nasional yang namanya telah wara-wiri di pelbagai media massa. 
            Sebelum kelas dimulai, Ketua FLP Lubuklingggau, Berry Budiman, memberikan pengarahan dan motivasi pada peserta Linggau Writing Class (LWC). Menurutnya, apapun tulisan kita atau karya kita haruslah mendapatkan reward. Penghargaan tersebut bisa berasal dari mana saja, salah satunya yang ia lakukan adalah dengan membuat buku sendiri. Karya tunggal seperti kumpulan cerpen, puisi, artikel, dan lain-lain. Dengan menunjukkan karya kumpulan cerpennya, Berry menuturkan bahwa ia terinspirasi oleh Gol A Gong yang karya-karyanya—dengan kreatif—dbukukan dalam bentuk cetakan yang dibuat sendiri. ”Jika Gol A Gong punya Gong Publishing, maka saya punya Berry Publishing,“ tambahnya. 


            Setelah puas sharing bersama ketua FLP, tibalah saat LWC pertemuaan kedua dimulai seiring dengan kedatangan sang pelatih yang sudah ditunggu-tunggu. Benny Arnas, selaku pelatih tetap di LWC mengaku cukup puas dengan jumlah peserta yang jauh bertambah dibandingkan dengan jumlah peserta pada pertemuan perdana lalu. Sebelum memberikan materi Benny Arnas meminta satu persatu peserta memperkenalkan dirinya masing-masing. Karena memang didapatkan berbagai kalangan peserta yang meliputi pelajar, pemuda, bahkan ada pula yang berasal dari kalangan pendidik yang hadir kali ini. Sebelum melanjutkan pelatihan, terdapat berbagai kesepakatan wajib yang harus ditaati oleh peserta, yaitu:
            “Selalu hadir di setiap pertemuan, Selalu mengerjakan tugas, Sangat sedikit bertanya, Menyetorkan bahan bacaan di setiap pertemuan, dan Selalu menyetorkan setiap tulisan (apa pun) di setiap pertemuannya,“
            Tak hanya sampai disitu, peserta yang tidak mematuhi berbagai kesepakatan tersebut, wajib membayar iuran untuk setiap pelanggaran yang mereka lakukan. Benny Arnas pun mengungkapkan, jika selama ini yang kita ketahui adalah setiap kursus yang umumnya berbayar, namun di FLP Lubukinggau, cara yang diterapkan berbeda. Dia menjelaskan lagi, bahwa sistem dari LWC tersebut harus dibalik. Jika selama ini berbayar, maka di FLP Lubuklinggau kita coba terapkan justru bagi yang tidak hadirlah yang mesti membayar.  
            Hal yang selalu dikatakan Benny Arnas di sela-sela pelatihan yaitu, Ia ingin sekali kegiatan menulis kedepannya menjadi hal yang sangat mendarah daging pada diri kita, semisalnya jika kita mengikat tali sepatu saat terlepas, makan jika terasa lapar, dan lain-lain. Menulis memang haruslah dibiasakan. Awalnya kita memang harus memaksakan diri sendiri. Buatlah jadwal sendiri untuk membaca dan menulis. Kemudian mencoba mematuhi jadwal membaca-menulis itu adalah tahapan awalnya. Orang yang suka membaca apa pun, yakinlah dia akan kaya dalam pembendaharaan kata karena kegiatan tersebut merangsang kita untuk mengeruk setiap memori, dengan kata lain apa pun bacaan yang kita baca, nantinya akan bersimpulisasi menjadi pemahaman yang utuh” ujar Benny Arnas.

            Menulis ternyata tak melulu soal cerpen dan puisi. Kegiatan sehari-hari pun bisa kita jadikan sebagai tulisan yang, anggaplah sebagai diary atau esai kehidupan pribadi. Tentulah isi dari esai kehidupan tersebut harus mampu dimengerti oleh pembaca dan haruslah menarik. Memang, menulis tidak akan pernah terlepas dari kegiatan membaca. Oleh karena itu, kita haruslah terbiasa membuat jadwal membaca yang harus kita patuhi sendiri. Kita haruslah menemukan kenikmatan saat membaca kapan pun itu, apakah pada waktu pagi, siang, petang dan malam. Benny Arnas sendiri mengungkapkan secara gamblang bahwa ia  mempunyai schedule membaca yang wajib ia patuhi setiap harinya, yaitu pada malam hari, sejam sebelum tidur. Bagi mereka yang awam, memang terdengar agak aneh, namun percayalah orang yang telah memiliki jadwal membaca yang tetap, akan bisa lebih menikmati setiap momen yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Dan tak hanya itu, membaca akan menjadi kebiasaan baik untuk melatih kemampuan berpikir terstruktur, rapi, dan kritis.
            Pada saat proses pelatihan LWC berlangsung, agar lebih efektif maka dibentuklah beberapa grup. Masing-masing grup yang terdiri dari enam grup tersebut langsung mendapatkan tantangan menulis dalam hitungan 3 menit. Tantangan menulis apapun tersebut didaasarkan pada ketiga kata yang dipilih langsung oleh pelatih, ”3 kata ekstrim” begitulah sang mentor menjelaskan, seperti misalnya, kelompok dua—kelompok saya— yang mendapatkan ketiga kata ekstrim yaitu ”WC, Mancing, dan Cinta Monyet”. Kata-kata ekstrim tersebut memang sangat berguna dalam membentuk atau mengarahkan sebuah tulisan. Mau tidak mau kita akan membentuk sebuah cerita dari ketiga kata ekstrim tersebut. 

            Pada sesi akhir pelatihan, Benny Arnas kembali mengingatkan betapa pentingnya jadwal membaca. Pastikan kita menerapkan target membaca minimal 1 buku per minggunya, selain itu, ada baiknya setiap kita selesai membaca karya orang lain, kita menuliskan pendapat kita tentang buku tersebut. Semacam resensi, agar kepiawaian kita dalam menulis semakin terlatih dan kita akan kaya pembendaharaan kata. Dan yang terpenting adalah menulis apa pun dan kapan pun, tanpa perlu mencaricari alasan untuk tidak menulis.
            Kami tunggu Anda ya untuk bergabung di LWC, setiap hari Kamis pukul 14.00 WIB. Spesial untuk pertemuan ketiga LWC akan diadakan pada hari Sabtu (6 Juni 2013) di Perpustakaan Kota Lubuklinggau..
Hurry up and Join us ^__^.. 

                       
            Ditulis oleh: Nurul Hasanah ( Divisi Publikasi, FLP Lubuklinggau )

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Quote

“...berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri, itulah sesungguhnya sikap yang realistis.”
Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
Ahmad Fuadi

Pengikut