Penulis yang Buruk; Pembohong yang Amatir
Apakah kamu seorang
penulis? Ah, sebenarnya saya masih malu untuk menyatakan diri sebagai seorang
penulis. Sederhana? Seorang penulis tentu akan terus menulis, walaupun ia tak
puny a ide. Tidak pula seperti kebanyakan orang yang sering mengatakan
bahwasanya mereka tidak punya waktu untuk menulis. Lalu apakah ia bisa
dikatakan sebagai penulis jika ia tak kunjung menulis apa-apa dalam waktu lama.
Anggaplah, seorang penulis minimal harus menulis satu kali dalam satu minggu. Sementara
saya sudah begitu lama tak menulis lagi.
Sebelumnya, saya ingin kita
bersepakat, jangan sampai muncul kesalahpahaman di antara kita. Mari kita
relakan bahwa menulis SMS, mengupdate status FB, dan orat-oret tanpa juntrungan
tidak kita masukkan dalam kategori “menulis”. Analoginya begini, seorang
pendidik pastilah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mendidik. Bisa jadi,
mereka membuat rencana pembelajaran, menyiapkan diktat untuk keperluan
mengajar, demonstrasi, atau mungkin pula permainan yang berhubungan dengan
materi pelajaran. Jika seorang pendidik datang ke sekolah tidak mendidik
apa-apa, bahkan menyuruh siswa untuk menyelesaikan soal-soal LKS atau merangkum
materi pelajaran, tentu ia belum khatam disebut seorang pendidik.
Penulis pun begitu. Adalah
hal yang wajar sekali jika seorang penulis banyak mengisi kepalanya dengan bacaan.
Mengumpulkan dan mengait-kaitkan ide-ide untuk ditulis. Pantas pula jika ia
sering memelajari cara-cara menulis yang baik. Dan yang paling krusial, ia
menghasilkan tulisan jadi. “Tulisan jadi” yang saya maksud tidak berarti
tulisan itu harus sudah selesai dalam sekali buat. Selama tulisan itu ada
kemungkinan untuk kamu selesaikan, maka ia termasuk tulisan jadi, mungkin kamu
menyelesaikannya besok atau lusa, tak jadi soal.
Saya pernah mengalami
masa-masa produktif dalam menulis ketika saya bisa menyelesaikan 2-4 cerpen
sehari, pun artikel dan puisi seolah-olah semua ide yang muncul di kepala bisa
saya ‘sulap’ menjadi tulisan (ah, kenangan itu). Dan kini, entah kapan saya
mulai menulis dengan tersendat-sendat, saya sendiri tak ingat betul kalaupun
ada hal-hal yang melandasinya. Mencari-cari sebabnya pun saya rasa tak ada
gunanya, seperti mencari sumber kegelapan, kamu tahu kan bahwasanya kegelapan
itu tidak eksis.
Terkait “tulisan jadi”
sebelumnya, tentu ada banyak faktor yang memengaruhi seorang penulis untuk
menyelesaikan tulisannya dalam sekali buat atau menyimpannya dulu untuk
diselesaikan nanti. Mungkin data-datanya belum lengkap, mungkin susunan
penyampaiannya belum terstruktur, atau bahasa yang digunakan yang belum baik
(baku). Tentu saja hal ini tidak salah. Keinginan untuk menulis sebaik-baiknya
mesti dilestarikan di dalam benakmu selalu. Tapi bedakan kegiatan menyimpan dan
menyelesaikan tulisan ini dengan menunda menulis. Menunda menulis sama saja
dengan tidak menulis. Sementara menyimpan, paling tidak kamu punya draf yang
bisa diselesaikan di kemudian hari.
Jadi, seberapa sering
kita—yang mengaku sebagai penulis—melakukan hal ini (menunda/tidak
menyelesaikan tulisan)? Jika jawabannya adalah sering, maka kredibitas kita pun
mulai merosot. Kamu tahu, seorang pedagang yang tidak berdagang bisa jatuh
melarat.
Menulis seperti apa yang
saya maksud? Begini, ketika kita memiliki kepercayaan diri untuk membuat sebuah
tulisan, kemudian kita memilih untuk berhadapan dengan media tulis alih-alih
melakukan hal lain yang tidak punya hubungan dengan kepenulisan kita. Ketika
kita punya semangat untuk menyelesaikan, menyicil, atau mengedit
tulisan-tulisan kita supaya ia menjadi lebih baik. Ketika kita mempunyai target
dalam kepenulisan kita. Maka itulah menulis yang saya maksud.
Untuk saat ini saya mulai
menyadari bahwasanya fenomena menulis tak ubahnya seperti pubertas yang dialami
pria. Pubertas muncul saat remaja dan usia setengah baya. Pemula akan mengalami
masa-masa pubertas saat mereka mulai bisa membuat tulisan (entah kemudian
tulisan itu diapresiasi orang lain atau hanya bertahan di dalam file-file
dokumen atau lembaran kertas), kemudian mereka akan kembali ‘lesu’. Masa-masa
‘lesu’ ini macam-macam sebabnya. Bisa jadi karena ia merasa kemampuan
menulisnya tidak kunjung membaik, atau motivasinya yang menurun setelah
berhasil meraih beberapa prestasi saja. Saya memang sedang terlena dengan
kegiatan sehari-hari yang sayangnya tidak berhubungan dengan aktivitas menulis:
mengurus organisasi, membaca, dan menghibur diri dengan hal-hal yang saya
sukai. Oase kepenulisan saya sudah lewat beberapa kilometer tetapi saya masih
saja menoleh ke belakang. Penulis yang
berhasil layaknya lelaki yang mendapati pubertas kedua. Mereka berhasil
melewati masa-masa ‘lesu’ dalam kepenulisan.
Begitulah, seperti yang
saya keluhkan sebelumnya, saya masih merasa malu untuk mengaku sebagai penulis.
Karena sudah lama sekali saya tak menyelesaikan sebuah tulisan. Seorang teman
yang menantang saya untuk membuat novel pun harus saya buat kecewa karena
sampai sekarang janji saya untuk saling mengapresiasi tulisan—bukan menulis
bersama—belum saya penuhi. Kalau diumpamakan pedagang, mungkin saya sudah jatuh
miskin saat ini.
Berry Budiman.
Karya-karya saya berupa
cerpen dan artikel pernah dimuat Berita Pagi (Palembang), Riau Pos, dan Linggau
Pos. Meraih juara kedua dalam agenda sriwijaya book-fair 2012 bertema “Surat
Cinta untuk Pemimpin”. Nominasi 7 besar lomba kepenulisan nasional “Kalimantan
Selatan dalam Cerita” di tahun 2012. Sejak 2012 pula, saya menjadi editor di
penerbitan Benny Institute dan telah mengedit tiga judul buku, salah satunya
adalah novel tentang sejarah jambi—Chan-Pi—yang tebalnya hingga 250 halaman
lebih. Sejak
Juni 2013, menjadi Ketua FLP Lubuklinggau.
08.16
|
Label:
Esai
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Quote
“...berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri, itulah sesungguhnya sikap yang realistis.”
― Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
― Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
― Ahmad Fuadi
― Andrea Hirata
“Biarkan orang lain menjalani kehidupan yang kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain memperdebatkan soal-soal kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menangisik kepedihan-kepedihan kecil, tetapi kamu jangan!
Biarkan orang lain menyerahkan masa depan mereka kepada orang lain, tetapi kamu jangan!”
― Habiburrahman El Shirazy
“Man jadda wajada
Siapa yang bersungguh - sungguh, akan berhasil”
― Ahmad Fuadi




0 komentar:
Posting Komentar